Our Sunday Adventure

Hi gendot

Hi gendot

Kali ini saya memposting sebuah cerita petualangan saya bersama seseorang yang sangat spesial. Baru saja kemaren minggu saya berkencan dengan pacar saya yang sangat manis, tembem dan gendut itu. Setelah dua minggu tidak bisa bertemu karena saya harus ke Bandung karena ada urusan keluarga. Tidak seperti biasanya yang setiap akhir minggu selalu saya sempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah dia di Ciganjur, Ragunan. Untuk mengajak jalan keluar atau sekedar menemani dia seharian dirumah.

Tentu saja rasa rindu dihati lebih besar daripada biasanya. Setelah 2 minggu tidak bertemu, ditambah kerjaan, tim KS, harus balik ke Jakarta pada hari Sabtu siang. Niat ingin bertemu sore harinya, namun sore itu Jakarta hujan deras hingga malam hari. Hari itu pun saya tidak bisa berkunjung ke rumahnya. Lebih baik saya menyimpan tenaga untuk esok harinya. Walaupun itu saya berat memutuskannya. Untung pacar saya orangnya pengertian.

Minggu pagi setelah bersiap-siap, saya berangkat menuju rumahnya. Berangkat pagi memang lebih semangat. Bukankah begitu?

Saya pun akhirnya bertemu juga dengan wanita yang saya rindukan. Tidak lupa saya menyapa dan berbincang dengan ayah ibunya. Tetap, bagaimanapun kita harus memberikan rasa hormat dan menjaga kepercayan yang telah beliau berikan. Hubungan akan terasa indah bila diiringi dengan restu dan doa orang tua. Jama’ah oh jama’ah! Alhamdu… lillaah!!

Mendadak jadi ustadz Nur Maulana

Mendadak jadi ustadz Nur Maulana

Dua minggu tidak bertemu, jujur membuat saya lebih excited bertemu dengannya. Apalagi bila punya pacar yang manisnya seperti pacar saya ini. Wuihh… (hehehe :p) ditambah standard berpakaian yang ia miliki. Saya mengagumi cara berpakaiannya. Cute and Stylish. Katanya dia sih, turunan dari ibunya yang stylish waktu masih muda hingga sekarang. Omongannya terbukti dari cardigan coklat yang ia kenakan menambah aksen manis.

Kami berencana pergi ke Planetarium yang berada di Lokasi Taman Ismail Marzuki, Cikini. Namun kami tidak langsung berangkat. Dan rangkaian moment berharga terbentuk dengan perlahan, dia begitu manis :’) . Maklum kami masih pingin saling lepas kangen. hehe.

Satu kejutan buat saya. Dia memberikan sepasang boneka buatan dia sendiri. Boneka kami berdua memakai Jas Almamater. Bahan dari kain berwarna dan busa yang dijahit. Dia menceritakan bagaimana perjuangan dia membuat boneka ini hingga selesai.

udah kayak abang none jakarta

udah kayak abang none jakarta

Boneka yang berharga dari wanita yang sangat berharga.

Seusai dhuhur dan memotret jalur perjalanan dari rumah-planetarium, kami pun berangkat. Tidak lupa bawa bekal dan air minum yang banyak untuk dimakan didalam mobil selama perjalanan. Kenyataannya sih 95% perbekalan dihabisin sama dia. Heran banyakan ceweknya makan daripada cowoknya. hahah, gakpapa. Emang kalo mau ngoceh sepanjang perjalanan membutuhkan asupan gizi yang  banyak cukup.

enak bener!

Sebanyak inilah kira2 makanan yang ia konsumsi. Luar Biasa!

Sebagai wawasan saja, apabila suatu saat anda berada di posisi seperti saya saat ini. Ternyata ditemani oleh celotehan pacar selama perjalanan itu membuat perjalanan semakin hidup dan penuh warna. Saluran radio manapun gak ada yang bisa ngalahin. Epic! Lengkap semua topic dibahas disini. Mulai info lalu lintas, berita terkini, pekerjaan, perkiraan cuaca, berita olahraga, imlek. Semua ada!

Hingga tiba2 dia menginstruksikan untuk mengambil jalur jalan yang tidak sesuai dengan google map

dan kami pun tersesat!

Sebenarnya cukup sederhana. Kami dari arah kuningan tinggal belok kanan tepat setelah taman menteng. Namun dia berkata kalau lurus terus akan sampai ke tugu tani. Di tugu tani ada peetunjuk arah ke planetarium. Hahahaha, dasar gendot!

Kami pun lurus berharap kita tiba di tugu tani. Namun dengan lucunya kami malah mencari berputar-putar tidak jelas tujuannya. Jangan arah tugu tani, posisi kami pun sekarang entah dimana. Berputar dan berputar terus tiba2 kami memasuki kawasan taman suropati.

Oke, setelah bertanya ke penjaga depan rumah di kawasan taman kami mendapatkan petunjuk jalan yang lumayan jelas. “Jalan itu lurus setelah perempatan ke dua yang ada lampu merahnya ke kiri. Lurus terus ketemu rumah sakit terus aja. Sampai ketemu rel rel kereta cari jalan letter u. Disitu ada plang planetarium”.

Kami pun jalan sesuai petunjuk arah yang diberikan oleh bapak itu. Entah bagaimana caranya kami malah nyampe ke busway manggarai. Ini sih jalan menuju kantor kami di Tebet. Kami pun putar balik. Tidak lupa bertanya ke orang. Lanjutkan perjalanan. Dan dengan ajaibnya kami balik lagi ke taman suropati.

Pacar saya tahu gelagat saya mencari orang untuk ditanya arah jalan. Dia langsung berkata, “Pokoknya aku gak mau tanya sama bapak yang tadi lagi!”. “hahahaha, iya iya kita cari orang lain beb”

Kita akhirnya bertanya orang lain. Udah dapat petunjuk yang lumayan jelas. Kami berangkat dengan mantab. Kali ini jalanan serasa sudah benar. Setelah memastikan bertanya orang, ternyata jalan kami memang sudah benar cuma ada kelewatan belokan yang mengharuskan kami ambil jalan memutari tugu tani. Yak kami sudah di tugu tani! Dan dari situ jalan menuju planetarium tinggal lurus saja.

Sekitar jam empat sore kami pun akhirnya sampai juga ke Planetarium yang berada di dalam kawasan Taman Ismail Marzuki. fffuuuh! … Lega!

hell-yes-onion-head-emoticon

Planetarium

Ini dia tujuan petualangan kami di hari minggu

Dan tepat ketika memasuki kawasan parkir hujan mulai turun. Kami berjalan memakai payung menuju pintu masuk planetarium. Alih alih berharap akan mendapatkan sajian pertunjukan yang epic tentang gugusan bintang-bintang, kami dihadapkan pada suatu kenyataan pahit.

Planetarium tutup karena ada hari raya Imlek . Ya. Tutup.

sad-gif1

Mungkin seperti ini ekspresi saya dikala mengetahui kenyataan itu

Untung saja di kawasan Taman Ismail Marzuki ini masih terdapat beberapa spot yang bisa jadi alternatif untuk main. Ada XXI, IKJ, ada juga kantin bila ingin makan. Kami memutuskan shalat dulu di belakang kampus IKJ. Setelah itu kami mencari makanan di kantin. Hujan-hujan gini enaknya ya makan yang panas dan berkuah. Kami mencari bakso.

Ada kejadian lucu disini. Masing dari kami memesan bakso. Namun pacar saya yang pada dasarnya kurang suka sama mie atau sejenisnya, hanya memesan bakso tanpa mie, so’un, atau bihun. Terus saya bilang, “kamu makan bakso doang pasti gak kenyang”. Dia jawab,”ntar aku mau pesen pempek lagi kok”. “Yaudah aku juga pesen pempek juga. Panggil aja masnya. Pesen sekarang biar cepet”

Dengan kondisi kantin yang lumayan rame, ada lumayan banyak orang yang juga lagi makan. Pacar saya dengan santainya memanggil pelayan dari kejauhan dengan suara agak keras. Begini, “Mas, mas! Mau pesen makan lagi!”

thhafroze

Sontak saya pun bilang kenapa harus pakai kata”lagi”. Kan bisa pesen makan doang. Lucu aja ntar kesannya kita berdua pasangan yang doyan makan. hahaha. Dasar

Taman Ismail Marzuki, performing arts centre

Taman Ismail Marzuki, performing arts centre

Selesai makan kami beranjak kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan untuk mencoba jalan ke Kota Tua. Tidak lupa bertanya jalan ke orang tentunya. Lebih baik bertanya daripada nyasar lagi kan.

Untungnya kali ini jalan menuju sana arahnya tidak rumit. Cukup mengikuti jalan besar ke arah Harmoni lurus terus ke Utara melewati stasiun Kota dan langsung berada di kawasan Kota Tua. Sungguh kawasan yang selalu padat pengunjung.

Setelah menemukan spot parkir kami jalan menuju Kota Tua. Hari minggu sore seperti ini kawasan Kota Tua begitu padat pengunjung. Mulai dari anak2, remaja, hingga orang tua ada disini. Ketika sedang enaknya menikmati suasana kota tua, saya melihat sesosok orang yang sepertinya familiar di seberang jalan, tepat didepan sebuah bangunan tua. Dengan rambut gundul, muka dekil, dan baju lusuh dia berbalik memandangi saya dengan agak keheranan. Sontak saya teringat dengan seorang artis laga terkenal yang membintangi film merantau dan the raid. Iko Uwais!

aktor laga idaman para wanita

aktor laga idaman para wanita

Ada Iko Uwais di Kota Tua! Saya pun menolehkan kepala pacar ke arah iko berharap dia juga melihat aktor lagi ini. Dan dia pun mengiyakan itu adalah iko uwais. Kami berdua masih terheran-heran lumayan lama, masih belum mempercayai apa yang barusan kami lihat. Yang jadi pertanyaan saya kenapa aktor laga seperti dia berada di Kota Tua dengan rambut botak, muka dekil dan baju lusuh. Apakah dia sedang syuting film laga terbaru ataukah dia memang bekerja sambilan jadi kuli gendong di sana. Semuanya bisa saja terjadi.

Tidak ingin terjebak dalam bayang2 Iko, kami pun meneruskan ke jalanan bagian dalam Kota Tua. Beraneka jajanan tersedia disini. Juga ada banyak lapak yang menjajakan sesuatu yang unik seperti tatto, steam gigi (gak tau itu giginya diapain), cincin nama cuma 5000, tantangan masukin semacam ring ke botol berhadia hape cina bekas, hingga persewaan objek fotografi berupa mobil antik dengan latar belakang bangunan kuno. Suasana jaman dahulu benar2 terasa di tempat ini.

stasiun kota

mobil antik yang disewakan untuk pemotretan

mobil antik yang disewakan untuk pemotretan

kota tua small

Suasana kota tua

Maghrib. Puas menikmati suasana Kota Tua, kami putuskan untuk pulang sekalian mengejar maghrib di jalan.

Dan kami pun mengakhiri petualangan kami hari ini. Tidak berasa kami sudah menghabiskan waktu bersama hampir seharian penuh. Dari pagi hingga petang yang penuh cerita. Sungguh hari yang sangat istimewa bersama orang yang istimewa. Memang bila kita menghabiskan waktu bersama orang yang kita sayangi waktu akan berjalan tanpa terasa. Bahkan kesasar dijalan pun menjadi menyenangkan. hahaha, aneh bukan?

Kalau bagi saya ini tidak aneh sama sekali. Karena memang sejak saya berjumpa dirinya, sudah banyak tempat dan moment yang kami habiskan bersama-sama. Semuanya begitu berharga. Semuanya begitu indah untuk dikenang. Banyak hal2 yang belum saya lakukan sebelumnya, saya lakukan for the first time with her. She’s just come with thousand of miracles in my life.

Gong Xi

Gong Xi

Gong Xi

Gong Xi

3 responses to “Our Sunday Adventure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s